Salesman ??? Kok gampang nyerah…

Suatu hari seorang salesman datang ke tempat saya dan menawarkan produk produk yang dijual.
Singkat cerita dia bercerita bahwa dia bekerja diperusahaan ini baru 1 bulan.

Sebelumnya dia bekerja di perusahaan lain juga sebagai salesman tetapi hanya 2 bulan saja.
Saya bertanya kenapa hanya 2 bulan saja kerja diperusahaan tersebut?

Jawabannya sungguh mencengangkan dan membuat saya tersenyum prihatin… Yaitu : “saya keluar dari perusahaan itu karena produk produk perusahaan itu harganya mahal jadi saya tidak bisa menjualnya dan tidak pernah masuk target”.

Wowww … Seorang salesman loh … Menyerah  menjual produk produk yang harganya mahal. Padahal mahal itu relatif, apalagi pengakuannya produk tersebut hanya senilai dibawah Rp 25.000 per unit untuk masuk ke outlet.

Produk mahal bukan alasan… Tetapi bagaimana kita berfikir segmen pasar mana yang cocok untuk produk kita.
Kalau pola pikir seperti salesman itu maka tidak ada produk mahal di Indonesia, karena harga Rp20.000 kebawah saja dikatakan mahal.

Padahal salesman adalah ujung tombak perusahaan yang dituntut untuk tahan banting dan tidak mudah menyerah. Produk apa saja yang dijual pasti mempunyai pasar sendiri dan kita harus cerdik dalam mencari pasar tersebut dan tentunya dengan dilengkapi dengan strategi strategi pemasaran yang jitu, maka produk tersebut akan diterima oleh pasar.
image

Advertisements

Manusia Ditakdirkan Sebagai Salesman

Judul itu saya tulis karena adaya fenomena yang saya lihat bahwa banyak orang yang MALU untuk memulai berjualan atau berbisnis. Mereka anggap menjadi pedagang dengan berjualan suatu produk adalah bukan level mereka. Yah …. kondisi diatas sangat kontradiksi dengan suara suara yang saya dengar atau curhat curhat ke saya yaitu : “saya pingin usaha sendiri, udah capek bekerja ikut orang”. Tetapi begitu disuruh jualan produk … mereka hanya mengedepankan malu dan gengsi.

Orang orang seperti ini lupa … bahwa dia dari orok pun sudah berjualan, sudah merayu dengan berbagai cara untuk mendapatkan ASI dari ibunya. Orok itu berjualan air mata, berjualan jeritan. Menjadi anak anak … dia menjual rayuan ke orang tuanya untuk bisa dibelikan mainan dan mendapat jajanan kesuakaannya dia. Waktu di sekolah … dia menjual usaha belajar kerasnya untuk mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Lulus sekolah dia menjual nilai di ijasahnya untuk mendapatkan pekerjaan, setelah usia matang dia menjual cintanya untuk mendapatkan pendamping hidup.

Jadi … apa yang digengsikan kita dalam mencoba berjualan dan memulai berbisnis? Tentunya untuk mendapatkan income dari berbisnis, ada sesuatu yang dijual baik barang ataupun jasa. Dan banyak cara untuk mengasah mental dan menghilangkan rasa malu kita sebagai penjual. Misalnya dengan ikut menjadi member MLM (multi level marketing) atau menjadi sales asuransi atau properti.

Ikut berpartisipasi menjadi member MLM sangat mengasah mental kita menjadi berani dan menjadi penjual yang profesional. Demikian juga dengan menjadi sales asuransi atau properti, kita akan di bimbing untuk menjadi jiwa penjual profesional walaupun kita masih menjalani sebagai karyawan kantoran.

Kesimpulannya apabila kita berniat menjadi pedagang atau pebisnis, hilangkan rasa malu dan gengsi dan mulailah belajar berjualan apapun walaupun kita masih terikat dengan aktivitas sebagai karyawan kantor. Itu semua sebagai bekal awal untuk melangkah memulai berbisnis.

Pengkodean Produk versus Mekanisme Pasar

Terkadang saya bingung dengan suatu Produsen  yang memberikan pengkodean produknya, untuk membedakan produk untuk distributor wilayah A berbeda untuk distributor wilayah B, C, dst.

Yang pada akhirnya korban dari semua itu adalah distributornya, apabila produknya dia “nyasar” ke wilayah lain. Yang nyata nyata bukan si distributor yang melakukannya. Bisa jadi si agen atau resellernya yang menjual ke lintas wilayah. Tetapi produsen hanya bisa menyalahkan distributor dan memberi hukuman pencabutan hak distribusinya.

Saya hanya bilang Wowww kerennn … Kenapa? Selevel distributor skala internasional pun tidak akan bisa memantau pergerakan produknya yang dilakukan oleh jalur distributor level terendah yaitu reseller. Mau dijual kemana produk itu  … terserah lah sama resellernya … kan dia udah beli.. jadi suka suka dia mau jual kemana.

Dan akhirnya si produsen kerjanya hanya menghabiskan waktu untuk memantau pergerakan kemana produknya didistribusikan dan menghabiskan waktu untuk mencari kesalahan distributornya.

Inti dari itu semua adalah suatu produk adalah digerakkan oleh yang namanya mekanisme pasar. Sehebat apapun kontrolling distribusi atau sistem pengkodean produk atau ancaman pencabutan hak distribusi …. TIDAK AKAN MAMPU MELAWAN MEKANISME PASAR. Apalagi sudah terbukanya pasar bebas.

Jadi janganlah waktu kita dihabiskan untuk hanya memantau sebagian kecil dari Product Management. Masih banyak hal yang dilakukan untuk memberi sentuhan marketing ke produk yang kita buat.

Denda Rp 500.000,- untuk angkot ngetem sembarangan

Pertama kali saya tahu ada kebijakan denda untuk sopir angkot yang nakal, kontan saya tersenyum lega dan bertepuk tangan. Akhirnya …. biang kemacetan di ibukota yaitu angkot bisa diberi hukuman setimpal.
Penolakan? Tentu ada dan pasti ada. Dari siapa? Ya dari sopir angkot yang merasa dirinya paling benar dan paling memiliki jalan di ibukota Jakarta. Hahahaha sekali lagi saya tertawa lebar.

Ya … denda Rp 500.000,- untuk angkot ngetem sembarangan akan berlaku awal Januari 2014. Dan kabar terakhir, gubernur DKI Jakarta tidak peduli dengan protes para sopir angkot. Good Job for Jokowi dan Ahok ….

Berlahan dan pasti … Pemda Jakarta menjawab tantangan untuk menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta, diawali dari sterilisasi jalur busway dan sekarang denda untuk angkot ngetem. Dan saya tidak setuju apabila ada pendapat bahwa Jokowi dan Ahok tidak pro ke rakyat kecil. Justru kebijakan denda ini sangat pro terhadap semua rakyat Jakarta yang sudah stress dengan kemacetan.

Dan selanjutnya perlu diperbaiki hal sebagai berikut :
1. Mentalitas sopir angkot yang terkesan tidak berpendidikan, sembarangan, kasar, dan mau enak sendiri. Mungkin dengan pola sopir trans jakarta atau sopir taksi akan didapatkan sopir sopir angkot yang lebih tahu aturan dan adat.
2. Pengelolaan angkot oleh negara atau swasta bukan oleh pribadi sehingga dihasilkan management profesional dalam pengelolaan angkot.

Oke, sukses buat Jokowi dan Ahok. Jangan takut membuat gebrakan dan terus maju.

Pro Kontra Sterilisasi Jalur Busway di Jakarta

jalur buswayGatal tangan saya untuk menulis tentang program sterilisasi jalur busway dari mobil dan motor. Sungguh gemas saya dengan tingkah laku dan pola pikir orang orang yang menolak dan keberatan dengan besarnya tilang Rp1.000.000 untuk mobil dan Rp500.000 untuk motor.

Apasih alasannya orang orang yang menolak tilang sebesar ini:

  1. Mereka berkata terlalu berat nilai tilang buat saya, gaji atau setoran saya cuma sekian. Lho …. kok lucu ya mereka itu, Hukum kok ditawar dengan kemampuan finansial mereka. Jadi kalo besarnya tilang hanya Rp 50.000 mungkin mereka masih kuat dalam membayarnya. Sehingga mereka akan berani masuk ke jalur busway. Kok enak ya ….. maunya mereka hukum diberlakukan sesuai uang mereka.
  2. Ada sterilisasi malah bikin macet. Ya iya lah …. semua program yang masih mula dan tahap sosialisasi pasti menimbulkan pembelajaran terlebih dahulu. Tujuannya jelas, pemerintah ingin membuat masyarakat untuk memakai transportasi umum. Kalo gak mau macet ya naik lah busway atau kereta. Gitu aja kok repot.

Aneh …. sungguh aneh masyarakat kita ini. Susah sekali diatur sesuai hukum. Maunya enak sendiri, maunya serba aturan sendiri. Makanya gak maju maju negara ini kalau diisi orang orang yang berpikiran mau enak sendiri. Jadi akankah kita menjadi bagian masyarakat yang maunya enak sendiri? Semua tergantung kita.

Polisi Tidur

polisi tidurSebelum melihat fenomena di masyarakat yang terjadi sekarang, alangkah baiknya kita membaca dulu aturan pemerintah yang sudah di buat yaitu

Peraturan Menteri Perhubungan No 3 tahun 2004

Pasal 4. Alat pembatas kecepatan kendaraan hanya bisa dipasang di jalan pemukiman, jalan lokal kelas IIIC dan jalan jalan yang sedang dilakukan konstruksi. Selain itu perlu di dahului dengan rambu peringatan.

Pasal 5. Pembatasan kecepatan harus dibuat dibuat dengan ketinggian maksimal 12 cm, lebar minimal 15 cm, dan sisi miring dengan kelandaian maksimal 15 derajat.

Ya …. itu aturan tentang pembuatan polisi tidur di jalan jalan yang biasa kita lewati. Polisi tidur adalah istilah dari gundukan bangunan yang dibuat melintang di jalan untuk tujuan menghambat kendaraan melaju dengan kencang. Polisi tidur ini bisa dibuat dari semen, tali tambang atau besi yang dipermanenkan.

Pertanyaannya adalah apa sih tujuan awal dari polisi tidur? Sebenarnya sederhana saja yaitu mengurangi laju kendaraan yang lewat dengan alasan keselamatan! Sungguh mulia sebenarnya tujuannya. Tetapi akhir akhir ini konsepnya sudah menyimpang jauh dari mulia dikarenakan dimanfaatkan oleh orang orang yang mengajukan kepentingan sendiri. Dan seakan sangat membabi buta pembuatan polisi tidur dimana mana selain dimensinya yang menyalahi aturan pembuatannya.

Aturan dibuat tentunya dalam pelaksanaannya harus mendapat izin dulu dari pembuat aturan dalam hal ini adalah Departemen Perhubungan. Tetapi apa iya pembuatan polisi tidur melalui prosedur yang benar? Jawabannya saya tidak yakin tuh … Dimana mana ada polisi tidur bahkan di jalan besar pun ada polisi tidur.

Sebagai orang awam, saya hanya melihat bahwa polisi tidur yang ada sekarang ini sudah menyimpang dari tujuan sebenarnya. Sekarang tujuannya lebih mengutamakan kepentingan pribadi saja terutama kepentingan pemilik usaha seperti toko, warung, dan tempat usaha lainnya yang tujuannya adalah memaksa orang orang melaju kendaraannya pelan pelan sehingga tokonya bisa diamati oleh pengendara. Hmmmm …. strategi marketing yang lumayan bagus tetapi merugikan orang lain dan sangat egois. Apabila di sepanjang jalan 1 km ada pemilik usaha yang punya sifat egois dan kesemuanya memasang polisi tidur, bayangkan saja ada 50 polisi tidur di sepanjang jalan itu. Dan bagaimana nasib kendaraan kita yang sangat dimungkinkan per kendaraan menjadi rusak dan menjadikan bahan bakar menjadi boros karena selalu menginjak rem.

Tetapi fenomena itu sepertinya sudah hal yang biasa dan seperti di amini oleh Departeman Perhubungan yang seharusnya mengatur pelanggaran polisi tidur tersebut. Kemana saja para petugas Departemen Perhubungan yang seharusnya menegakkan peraturan yang dibuatnya sendiri? Dan bagaimana nasib dari kendaraan kendaraan yang lebih cepat rusak bahkan berpotensi mengalami kecelakaan? Siapa yang bertanggung jawab? Hanya dibawa angin saja keluhan keluhan ini.

Fenomena Buruh dan UMR di Indonesia

Tanggal 31 Oktober dan 1 November 2013 seperti kita ketahui bersama terjadi aksi demo buruh di beberapa kota. Tuntutan mereka adalah mencapai Upah Minimum Regional (UMR) tahun 2014 sebesar Rp 3.700.000,- dimana UMR tahun 2013 adalah Rp 2.200.000,- Berarti terjadi peningkatan lebih dari 50%, dan ini adalah angka yang sangat luar biasa.

Sebenarnya yang disorot oleh masyarakat di Indonesia termasuk saya bukan hanya tuntutan kenaikan UMR tersebut. Yang disorot adalah banyak faktor yaitu :

  1. Tuntutan kenaikan setiap tahun. Naik boleh boleh saja, yang dipertanyakan adalah prosentase kenaikannya. 50% ! Logika saja … perusahaan mana yang mampu mengeluarkan kenaikan biaya secara tiba tiba dalam jumlah besar. Padahal di bisnis manapun komponen gaji adalah salah satu komponen biaya yang terbesar. Itu buruh yang tidak tahu.
  2. Sampai kapan dan sampai angka berapa kenaikan UMR. Andaikan kemauan buruh dituruti setiap tahun kenaikan 50%. Berapa juta gaji buruh 5 tahun mendatang? 28 juta per bulan !!! Mengalahkan gaji seorang manager atau PNS. Yang notabene untuk menjadi seorang manager atau PNS dibutuhkan kemampuan lebih dari seorang buruh. Dan kemampuan itu harus didapatkan dari bangku kuliah. Jadi? Mau berapa gaji seorang manager atau PNS apabila gaji buruh saja 28 juta per bulan? Sangat tidak masuk di akal.
  3. Bagaimana kemampuan buruh?  Masyarakat bertanya apa iya sih buruh di Indonesia punya kemampuan atau skill yang layak dibayar tinggi? Apa yang sudah diberikan ke perusahaan? Kemampuan yang dimiliki apa saja? Bisa tidak memberikan kenaikan omset 50% seiiring kenaikan gajinya? Jawabnya adalah tidak mungkin.
  4. Demo dan mogok kerja ! Dengan mereka mogok kerja, produksi pabrik juga berhenti. Negara rugi. Berapa ratus milyar kerugian yang dihasilkan oleh demo dan mogok kerja buruh? Bagaimana nasib para investor dari luar negeri? Bagaimana kalau investor pada lari keluar negeri? Siapa yang akan memberi lapangan kerja? Ingat ! Para investor akan gampang sekali memindahkan pabriknya ke Vietnam, Laos dan Kamboja yang upah buruhnya lebih murah.
  5. Gaji naik, inflasi pasti naik. Gaji buruh naik 50%, dapat dipastikan harga harga barang juga naik. Pengusaha tidak mau rugi, ongkos produksi sudah tinggi, harga jual produk atau jasa dinaikkan. Yang rugi siapa? Yang rugi adalah masyarakat pada umumnya yang tidak terkait dengan demo buruh. Masyarakat hanya mendapatkan kenaikan harga harga produk, demikian juga buruh. Gaji yang naik 50% akan menjadi percuma dengan kenaikan harga yang mungkin lebih besar dari 50%.

Yang lucu dan menjadi bahan tertawaan masyarakat adalah ada seorang buruh di Jakarta yang menuntut gaji Rp 3.700.000,- tetapi demo dengan menggunakan motor ninja kawasaki seharga Rp 45.000.000,- Gaji dia sekarang Rp 2.200.000,- masih maksain diri kredit motor seharga 45 juta. Jadi minta naik gaji hanya untuk bayar cicilan motor saja?

Itulah fenomena yang ada di Indonesia saat ini. Sangat mengecewakan bagi kita yang bukan buruh dan sedang bersama sama membangun negri ini.

Jadi …. wajar saja apabila Pemerintah tidak mengikuti kemauan serikat pekerja dan buruh yang mempunyai keinginan tidak masuk akal. Pemikiran pemerintah jauh lebih hati hati dan mempertimbangkan segala aspek keseimbangan dan kehidupan negri ini.

Kalau mau kredit motor kawasaki ninja …. jangan jadi buruh. Dengan kata lain hidup sederhana jangan untuk sok sok an saja. Berpikir lebih panjang untuk kelangsungan hidup anak cucu kita dan negri ini.